1/06/2013

B. Berbagai Kebijakan Untuk Mengubah Perekonomian Indonesia dari Ekonomi Kolonial ke Ekonomi Nasional


B. Berbagai Kebijakan Untuk Mengubah Perekonomian Indonesia dari Ekonomi Kolonial ke Ekonomi Nasional
          Memasuki tahun 1950 perekonomian Indonesia mengalami kemerosotan dengan terjadinya defisit. Hal ini disebabkan, antara lain sebagai berikut.
1.    Merosotnya perdagangan luar negeri sehingga penerimaan negara terus menurun.
2.    Tidak berkembangnya industri.
3.    Dipergunakannya sebagian besar produksi minyak untuk keperluan dalam negeri.

Upaya mengatasi defisit dalam bidang keuangan, antara lain dilakukan dengan pemotongan uang atau yang terkenal dengan Gunting Syarifudin. Program ini dimulai tanggal 20 Maret 1950. Nilai mata uang dibagi menjadi dua dari semua nilai uang yang bernilai Rp. 2.50 ke atas  sehingga nilai mata uang menjadi separuhnya. Kelemahan atau kemerosotan perekonomian itu, nampaknya juga dipengaruhi oleh sistem ekonomi lama (kolonial).
Selain itu, pemerintah membesar peran negara dan pengusaha Bumiputera dalam kegiatan ekonomi. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan sistem ekonomi nasional. Menurut konsep ekonomi nasional, pemilikan, pengawasan, dan pengolaan sektor penting dalam perekonomian Indonesia berada di tangan Bumiputera. Salah seorang tokoh yang merancang perekonomian Indonesia ke arah sistem ekonomi nasional adalah Dr. Sumitro Joyohadikusumo.
Untuk mewujudkan rancangan itu telah dilaksanakan Program Bentang. Program ini merupakan salah satu langkah awal dalam proses nasionalisasi ekonomi Indonesia. Wujud nyata program tersebut adalah memberikan kredit kepada para pengusaha Bumiputera. Walaupun banyak pengusaha yang dapat kredit, program Bentang ini tidak berhasil.
Akibatnya sulitnya perekonomian di Indonesia rakyat kecil di daerah-daerah menjadi korban. Mereka hidup serba kekurangan. Pemerintah mengalami kesulitan untuk menyediakan dana pembangunan sebagai upaya memperbaiki perekonomian di Indonesia.
Sejak dekrit Presiden 5 Juli 1959, sistem ekonomi yang berlaku adalah sistem ekonomi terpimpin.
Dalam rangka mencari jalan keluar untuk mengatasi perekonomian. MPRS menetapkan Undang-Undag Pembangunan Nasional Semesta Berencana TahapI(1961-1969). Hal ini dimaksudkan agar pembangunan dapat dilakukan secara bertahap. Setiap tahun dilakukan evaluasi terhadap pembangunan itu. Kemudian tanggal 28 Maret 1963 pemerintah mengeluarkan Deklarasi Ekonomi (Dekon) yang berisi ketentua-ketentuan pokok tentang strategi dari sisa-sisa imperalisme. Pada pembangunan nasional semesta berencana tahap I ini juga tidak berhasil.
Pemerintah melakukan usaha lain dengan penghematan dalam instansi-instansi pemerintah. Selain itu, memperketat pengawasan  atas pelaksanaan anggaran belanja. Namun penghematan ini juga tidak berhasil. Hal ini disebabkan pemerintah sendiri tidak turut bersikap hemat dalam pengeluaran belanja negara tetapi justru membuat proyek-proyek mercusuar, seperti pelaksanaan ganefo(Games of the New Emerging Forces), dan Conefo(Conference of   the New Emerging Forces).
Akibatnya, inflasi makin tidak terkendali da harga-harga makin melambung. Kondisi perekonomian Indonesia pun makin merosot.
Pemerintah membuat semboyan sekaligus instuksi kepada rakyat untuk menyemangati penduduk, antara lain ”berdiri di atas kaki sendiri” (Berdirikari), “kencangkan ikat pinggang”, dan “revolusi belum selesai”.
Pada masa Orde Baru pemerintah mengeluarkan kebijakan, yaiu Pembaruan kebijakan Ekonomi keuangan dan Pembangunan. Kebijakan tersebut dilandasi dengan Tap. MPRS No.XXXIII/1966. Pelaksanaan dari ketetapan itu bahwa ekonomi disusun atas dasar kekeluargaan yang tidak mengenal pertentangan kelas. Dengan demikian, adanya pengawasan dari rakyat terhadap penggunaan uang negara. Kabinet Ampera yang saat itu berusaha memperbaiki keterpuruka ekonomi menggariskan tiga program. Program tersebut harus dilakukan secara bertahap oleh pemerintah. Program tersebut meliputi;
1.    Program penyelamatan
2.    Program stabilisasi dan rehabilisasi,
3.    Program pembangunan

Sumitro Djoyokusumo adalah pencetus Program Bentang

 





0 komentar:

Poskan Komentar